Minggu, 18 Desember 2011

ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN

PENDAHULUAN
1.Latar Belakang

Setelah abad ke-15 M umat Islam mengalami kemunduran ditandai dengan hancurnya dinasti Abasiyyah.Seorang Sarjana Timur yang bernama Abdurrahman Kawakibi mengemukakan “Sifat orang Barat itu keras kepala,keras hati ,materialis, pendengki, mementingkan diri sendiri dan pendendam.Selain menguras harta kekayaan bumi Islam orang Barat mencemari budaya lokal dengan budaya Barat bahkan mulai masuknya misi kristen yang sejalan dengan paham liberal dan sekuler.
Usaha bangsa Barat tidak semuanya berhasil hingga mencabut keimanan.Setelah usaha-usaha yang dilakukan itu gagal kaum Eropa mulai mencari jalan yang lebih rumit.Mereka membuat penaklukan intelektual, sebuah konsep yang menggunakan konsep filosofis dan metafisika (dibawah lindungan logika, kebiasaan, dan pragmatik) yang akan menimbukkan kontroversi berkelanjutan, rumit serta penuh dengan unsur penipuan.Hasilnya kehancuran umat yang terpecah pada berbagai sekte-sekte atau aliran – aliran .
Bangsa Eropa menjajah dengan merubah pikiran serta kesusilaan ajaran islam agar dicemarkan, memisahkan Islam dari kehidupan sehari- hari dan memutarbalikan menjadi kepercayaan yang aneh.Usaha mereka menyebabkan Islam berada pada posisi terbawaqh.Di media masa Islam digambarkan konvnsional.Umat Islam digambarkan sebagai pusat peperangan, perpecahan, pergolakan, dan pertentangan antar sesama.
Dari sanalah mulai lahir sebuah ide dari golongan muda yang terhimpun dalam Perhimpunan Ilmuwan Sosial Muslim yang mensposori berdirinya Institute Pemikiran Islam Internasionla (IIIT) yang berdiri pada abad 14 H.dikotomi antara ilmu pengetahuan dengan islam begitu luas.

Pengertian Islamisasi Ilmu Pengetahuan .
Menurut Al-attas Islamisasi membahas tentang manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, kultur-nasional (yang bertentangan dengan Islam) dan dari belenggu sekuler terhadap pemikiran dan bahasa juga pembahsan dari kontrol golongan fisiknya yang cenderung tidak adil terhadap hakekat diri atau jiwanya.Islamisasi adalah suatu proses menuju bentuk asalnya yang tidak sekuat proses evolusi dan devolusi.Itu artinya Islam akan terbebaskan dari belenggu hal-hal yang bertentangan dengan Islam, sehingga timbul keharmonian dan kedamaian dalam diri sesuai denga fitrahnya.
Untuk melakukan Islamisasi harus melalui daua proses.Pertama, melakuakn proses pemisahan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat, dan yang kedua, melakuakn konsep-konsep Islam dan elemen-elemennya ke dalam setia cabang keilmuan masa kini yang relevan.Al-attas menolak pandangan bahwa Islamisasi ilmu bisa tercapai dengan melabelisasi sains dan perinsip Islam atas ilmu sekuler.

Prokontra Dalam Islamisasi Pengetahuan.
Sebagian Para ahli bersikap pro dan sebagian yang lainnya bersikap kontra.Dr.Mohammad Arkoun, mengatakan bahwa keinginan dari para cendikiawan Muslim  untuk melakukan Islamisasi ilmu dan tekhnologi adalah merupakan kesalahan,sebab hal ini dapat menjebak kita pada pendekatan yang menghadapkan bahwa Islam hanya semata-mata sebagai ideologi(1)Muslih Usa ,Pendidikan Islam Indonesia, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya,1991).Berkaitan dengan hal diatas Usep Fathudi mengatakan bahwa Islamisasi itu tidak perlu.Ilmu dikatakan relatif, spekulatif, dan tak pasti, sementara agama dianggap absolut, transendental dan pasti.
Dan ada sebagian kelompok yang mendukung adanya Islamisasi ilmu pengetahuan.Asumsi dasarnya adalah ilmu pengetahuan itu bebas nilainya.Islam hanya berlaku sebelum dan sesuadah ilmu pengetahuan beraksi lalu menyerahkan kedaulatan mutlak kepada metologi ilmu bersangkutan.Mulyanto mengatakan bahwa Islamisasi ilmu pengetahuan, tak lain dari proses pengembalian atau pemurnian ilmu pengetahuan pada prinsip-prinsip yang hakiki, antaranya ketahuidan,kesatuan, makna kebenaran, dan kesatuan ilmu pengetahuan(5)Mulyanto,Islamisasi ilmu pengetahuan, dalam Moeflich Hasbullah, gagasan dan perdebatan Islamisasi ilmu pengetahuan,(Jakarta:Pustaka Cisesindo ,2000) Layaknya Mulyanto,Haidar Bagir memiliki paradigma bahwa Islamisasi itu penting.Ia mengemukakan bahwa perlu adanya islamisasi di bidang sains.Faktor pendorongnya karena pertama, umat Islam butuh sebuah sistem sains yang dapat memenuhi kenutuhan-kebutuhannya.Sistem sains yang ada sekarang ini mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya tersebut.
Namun sistem sains modern banyak mengandung nilai Barat yang  bertentangan dengan Islam dan terbukti banyak ancaman dimasa yang akan datang nanti.Kedua,secara sosiologis, umat Islam memiliki kebudayaan yang berbeda karena letak geografisnya yang dekat dengan tempat sains modern Barat.Alasan ketiga, kita Umat Islam pernah memiliki peradaban Islami dimana sains pada saat itu berkembang sesuai dengan nilai-nilai islam.Jadi,apabila terdapat perbedaan sudut pandang dan pendekatan dalam melihat masalah Islamisasi ilmu pengetahuan, namun pada hakekeatnya sama.Yaitu mereka sepakat Islam perlu memiliki ilmu pengetahuan yang dibangun dari dasar-dasar islam.Ilmu pengetahuan adalah hasil teoresasi terhadap gejala-gejala alam dengan menggunakan metode dan pendekatan ilmiah.
Perbedaan hanya ada pada soal pendekatan.Kelompok yang kontra dengan Islamisasi merasa gengsi dengan hal itu.mereka berpendapat bahwa Islam tidak harus mengislamisasi ilmu melainkan langsung saja membentuk dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang berdasar pada corak ajaran islam.Kelompok yang setuju berpendapat bahwa tak ada salahnya sebagaimana Barat juga pernah mengambil ilmu pengetahuan di zaman klasik lalu.

Perkembangan Ide Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Sejak digagasnya ide Islamisasi ilmu pengetahuan oleh para cendikiawan muslim dan telah berjalan lebih dari 30 tahun, jika dihitung dari Seminar Internasional pertama tentang Pendidikan Islam di Makkah pada tahun 1977, berbagai respon terhadapnya pun mulai bermunculan, baik yang mendukung ataupun menolak, usaha untuk merealisasikan pun secara perlahan semakin marak dan beberapa karya yang berkaitan dengan ide Islamisasi mulai bermunculan di dunia Islam. Al-Attas sendiri sebagai penggagas ide ini telah menunjukkan suatu model usaha Islamisasi ilmu melalui karyanya, The Concept of Education in Islam. Dalam teks ini beliau berusaha menunjukkan hubungan antara bahasa dan pemikiran. Beliau menganalisis istilah-istilah yang sering dimaksudkan untuk mendidik  seperti ta'lim, tarbiyah dan ta'dib. Dan akhirnya mengambil kesimpulan bahwa istilah ta'dib merupakan konsep yang paling sesuai dan komprehensif untuk pendidikan. Usaha beliau ini pun kemudian dilanjutkan oleh cendikiawan muslim lainnya, sebut saja seperti Malik Badri (Dilema of a Muslim Psychologist, 1990); Wan Mohd Nor Wan Daud (The Concept of Knowledge in Islam,1989); dan Rosnani Hashim (Educational Dualism in Malaysia: Implications for Theory and Practice, 1996). Usaha dalam bidang psikologi seperti yang dilakukan Hanna Djumhana B. dan Hasan Langgulung, di bidang ekonomi Islam seperti Syafi'i Antonio, Adiwarman, Mohammad Anwar dan lain-lain. Bahkan hingga sekarang tercatat sudah lebih ratusan karya yang dihasilkan yang berbicara tentang Islamisasi ilmu pengetahuan, baik dalam bentuk buku, jurnal, majalah, artikel dan sebagainya.
Al-Faruqi sendiri, setelah menggagas konferensi internasional I, tahun 1977, yang membahas tentang ide Islamisasi ilmu pengetahuan di Swiss, ia mendirikan International Institute of Islamic Thought (IIIT) pada tahun 1981 di Washington DC untuk merealisasikan gagasannya tentang Islamisasi tersebut, selain menulis buku Islamization of Knowledge. Konferensi lanjutan pun diadakan kembali pada tahun 1983 di Islamabad Pakistan yang bertujuan untuk (i) mengekspos hasil konferensi I dan hasil rumusan yang dihasilkan IIIT tentang cara mengatasi krisis umat, juga (ii) mengupayakan suatu penelitian dalam rangka mengevaluasi krisis tersebut, dan juga mencari penyebab dan gejalanya. Setahun kemudian diadakan lagi konferensi di Kuala Lumpur, Malaysia, dengan tujuan untuk mengembangkan rencana reformasi landasan berfikir umat Islam dengan mengacu secara lebih spesifik kepada metodologi dan prioritas masa depan, dan mengembangkan skema Islamisasi masing-masing disiplin ilmu. Pada tahun 1987, diadakan konferensi IV di Khortum, Sudan, yang membahas persoalan metodologi yang merupakan tantangan dan hambatan utama bagi terlaksananya program Islamisasi ilmu pengetahuan.
Selain IIIT, beberapa institusi Islam menyambut hangat gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan dan bahkan menjadikannya sebagai raison d'etre institusi tersebut, sepertiInternational Islamic University Malaysia (IIUM) di Kuala Lumpur, Akademi Islam di Cambridge dan International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di Kuala Lumpur. Mereka secara aktif menerbitkan jurnal-jurnal untuk mendukung dan mempropagandakan gagasan ini seperti American Journal of Islamic Social Sciences (IIIT), The Muslim Education Quarterly(Akademi Islam) dan al-Shajarah (ISTAC).
Walaupun demikian, setelah mengalami perjalanan yang cukup panjang, Islamisasi ilmu pengetahuan ini dinilai oleh beberapa kalangan belum memberikan hasil yang konkrit dan kontribusi yang berarti bagi umat Islam. Bahkan secara lugas editor American Journal of Islamic Social Sciences (AJISS) mengakui bahwa meskipun telah diadakan enam kali konferensi mengenai pendidikan Islam, yaitu di Makkah (1977), Islamabad (1980), Dakka (1981), Jakarta (1982), Kairo (1985), dan Amman (1990), dan berdirinya beberapa universitas yang memfokuskan pada Islamisasi pendidikan, namun hingga saat ini, tugas untuk menghasilkan silabus sekolah, buku-buku teks, dan petunjuk yang membantu guru di sekolah belum dilakukan. Dan berdasarkan identifikasi Hanna Djumhana Bastaman, setelah cukup lama berkembang, Islamisasi melahirkan beberapa bentuk pola pemikiran, mulai dari bentuk yang paling superfisial sampai dengan bentuk yang agak mendasar. Bastaman mengistilahkannya sebagai; 1)Similarisasi, yaitu menyamakan begitu saja konsep-konsep yang berasal dari agama, padahal belum tentu sama; 2) Paralelisasi, yaitu menganggap paralel konsep yang berasal dari sains karena kemiripan konotasinya, tanpa mengidentikkan keduanya; 3) Komplementasi, yaitu antara sains dan agama saling mengisi dan saling memperkuat satu sama lain dengan tetap mempertahankan eksistensinya masing-masing; 4) Komparasi, yaitu membandingkan konsep/teori sains dengan konsep/wawasan agama mengenai gejala-gejala yang sama; 5)Induktifikasi, yaitu asumsi-asumsi dasar dari teori-teori ilmiah yang didukung oleh temuan-temuan empirik dilanjutkan pemikirannya secara teoritis-abstrak ke arah pemikiran metafisik, kemudian dihubungkan dengan prinsip-prinsip agama dan al-Quran mengenai hal tersebut; dan 6) Verifikasi, yaitu mengungkapkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang menunjang dan membuktikan kebenaran ayat-ayat al-Quran.
Jika dicermati, keenam pola pemikiran yang diidentifikasi Bastaman di atas, masih menampakkan jurang pemisah antara keduanya, agama yang pada dasarnya bersumber dari keimanan yang bersifat metafisik tidak begitu saja dapat dihubungkan dengan ilmu pengetahuan yang lebih bercorak empirik dan merupakan produk akal dan intelektual manusia. Walau demikian, pola-pola pemikiran tersebut harus tetap dihargai sebagai upaya untuk Islamisasi ilmu pengetahuan.

Realisasi Islamisasi ilmu pengetahuan
Dawam Rahardjo mengemukakan bahwa pencetus pertama Islamisasi ilmu pengetahuan adalah Ismail Alfaruqi, seorang sarjana kelahiran Palestine.Terkait dengan berdirinya sebuah lembaga penelitian international Institut of islamic Thought (III-T) .Tapi orang malaysia menganggap pencetus islamisasi adalah Naquib Alatas, adik kandung Alatas.Dawam Rahrdjo melihat bahw asecara substansial gagasan islamisasi sebenarnya sudah ada jauh sebelum adanya Ismail dan Attas.Realitas kaum mislim sendiri dapat dilacak sejak Wali Allah dan juga Sir Sayyid Ahmad Khan pada abad ke 18 mendirikan universitas Aligarh di India.
Gerakan pemikiran itu semakin kuat posisinya ketika bisa memasuki Al-azhar di Kairo.Pemikiran yang seperti itu memeng sedikit rumit bahkan masyarakat India sendiri menganggap Sir Ahmad Khan kafir dan secara diam-diam berpindah ke agama kristen.Gerakan IIIT terjadi pula di Amerika.Bedanya dengan gerakan yang ada sebelumnya IIIT lahir justru di negara Barat sendiri,khussunya AS,pusat peradaban modern masa kini.Menurut Dawam, pemikiran alfaruqi tentang Islamisasi pengetahuan sebenarnya terfokus pada Arabisme dan Islam.
Walaupun Ia seorang Palestine tapi Ia cukup memperhatikan Kehidupan Barat.Sebagai muslim Ia mempu mempresentasikan Islam dalam kategorikategori Barat.Ia berhasil memberi pemahaman baik tentang Isalam di dunia Barat.bagi Alfaruqi Islam lebih pada ide kemasyarakatan dan budaya atau kepradaban dalam nomenkalatur Islam di Indonesia.Pemikiran ini akhirnya dapat dikristalkan dalam gagasan Islamization of knowledge.Integrasi Islam keberbagai aspek kehidupan semakin tampak berkembang nilai-nilai Islam tercermin dalam ekonomi, sosial, budaya, politik, seni dan sebagainya.
Islamisasi yang terjadi dipengaruhi oleh sebab-sebab sebagai berikut:
Pertama, bahwa kehidupan modern yang ditandai dengan kemajuan tekhnologi diakui telah memberikan kemudahan di berbagai bidang.Namun bersamaan dengannya ada pula dampak negatif darinya yaitu timbulnya persaingan dan gaya hidup yang menghalalkan segala cara.Masyarakat menganggap bahwa segala masalah dapat diselesaikan dengan materi dan dianggap raja bagi yang memujanya.Umat merasa kehilangan pegangan dalam hidup yang absolut yaitu sang penciptanya yalni Allah SWT.Jadi ketika dia mengahadapi masalah yang berada diluar kemampuannya dia mulai goyah, mencari pegangan hidup yang rqapuh dan pegangannya sesaat, seperti hiburan, minum-minuman keras.
Kedua, ilmu pengetahuan tekhonologi sudah masuk dalam kehidupan dengan berbagai variasi.Mulai dari peralatan rumah tangga, peralatan masak-memasak, sudah menggunakan ilmu tekhnologi.Ilmu pengetahuan dan tekhnologi benar-benar sudah memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia di zaman sekarang ini.Namun ilmu pengetahuan dan tekhnologi tidak memberikan tujuan apa yang harus dicapainya. Agamalah yang nantinya mengetahui apa tujuan yang harus dicapainya.Einstein pernah mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan tanpa agama itu buta.Dalam hal itu, manusia kini menginginkan kehidupan yang alami, bebas dari pengaruh ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang demikian itu, atau back to nature.
Keadaan perkembangan ilmu pengetahuan telah mendorong para ahli untuk mengembalikan ilmu pengetahuan dan tekhnologi ke dalam wataknya yang murni sebagai sebuah kumpulan teori, dan menjjadikannya tunduk di bawah nilai-nilai agama.Ketiga, Islamisasi pengetahuan juga terjadi sebagai respons terhadapp pengetahuan dan tekhnologi yang datang dari Barat dengan sifatnya yang sekuler, materialistis dan ateis.Ilmu yang seperti ini boleh diterima oleh kaum muslim setelah ilmu tersebut diarahkan pada nilai-nilai Islam.Nilai yang dimaksud adalah nilai yang membawa kepatuhan kepa Tuhan, menghormati dan menjunjung tinggi martabat dan harkat manusia.
Keempat, Islamisasi menjadi tumpuan umat manusia dalam menyelamatkan kehidupannya dari bencarna kehancuran. Salah satu aspek kehidupan yang paling mudah dimasuki paham lain yang menyesatkan adalah paham ekonomi yang diterapkan..Dengan meningkatkan ekonomi seseorang, maka semakin meningkat pula kehidupan pada sektor lainnya. Namun kemajuan dalam ekonomi tidak dapat otomatis membawa kesejahteraan menjadi merata apabila tidak didasarkan pada nilai-nilai keadilan yang mendasarinya.Selain itu prakktik ekonomi juga diawali nilai-nilai materialisme yang menjadikan benda sebagai tujuan,sekularisme dan materialisme yang memandang cara apa saja untuk mencapai tujuan.
Dalam keadaaan ekonomi yang demikian itu, upaya mengislamkan kehidupan ekonomi menjadi penting. Upaya ini dilakukan antara lain dengan memasukan nilai-nilai islam ke dalm praktik ekonomi.

KESIMPULAN
Pada masa awal Islam sampai masa keemasannya memang tidak ada labelisasi Islam pada setiap ilmu pengetahuan, karena saat itu umat Islam mempunyai posisi yang kuat dan penguasa ilmu pengetahuan, walaupun tidak menggunakan label Islam, tapi framework yang mereka miliki berlandaskan Islam sehingga kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan saat itu semakna dengan Islamisasi. Ini berbeda dengan kondisi umat Islam saat ini, Islam berada pada posisi yang kalah, terhegemoni dan terdesak oleh keilmuan dan peradaban Barat sehingga untuk membuatnya bebas dari hegemoni tersebut perlu dimunculkan ciri keislaman yang tegas dan jelas dalam bidang keilmuwan.
Wan Mohd Nor Wan Daud memiliki kemampuan yang unik dalam proses universalisasi prinsip-prinsip keagamaan dan etika-hukum, serta dalam mempersatukan pelbagai golongan umat manusia di sekitar mereka, yang mampu menerobos rintangan-rintangan linguistik, rasial, sosial-ekonomi, gender, bahkan religius." Dan harus kita sadari bahwa untuk mengislamkan ilmu bukanlah pekerjaan mudah, tidak sekedar memberikan label Islam atau ayatisasi terhadap pengetahuan kontemporer, tetapi dibutuhkan kerja keras dan orang-orang yang mampu mengidentifikasi pandangan hidup Islam sekaligus mampu memahami budaya dan peradaban Barat sehingga apa yang menjadi cita-cita bersama bisa terealisasi sesuai dengan yang diinginkan.

 DAFTAR PUSTAKA
 Al-Faruqi, Ismail Raji, Islamisasi Pengetahuan (Bandung: Pustaka, 1984)
Armas, Adnin, Westernisasi dan Islamisasi Ilmu, dalam Islamia: Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam (INSIST: Jakarta, Thn II No.6/ Juli-September 2005)
 Bakar, Osman, Tauhid dan Sains (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994)
Abuddin Nata,Metodelogi Studi Islam (Jakarta : Rajawali pers, 2010)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar